Paoy Paet, 18 Maret 2026 – Musim hujan ekstrem yang masih berlangsung di awal tahun 2026 terus memicu serangkaian bencana hidrometeorologi di berbagai provinsi Indonesia. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 17 Maret 2026, tercatat ratusan kejadian bencana, dengan banjir, longsor, dan cuaca ekstrem mendominasi. Total korban jiwa mencapai 197 orang meninggal dunia, 1.980.498 jiwa terdampak/mengungsi, serta kerusakan infrastruktur yang signifikan.
Rentetan Kejadian Utama di Maret 2026 Pada pekan 9–15 Maret 2026 (Week 11 ASEAN Weekly Disaster Update), BNPB melaporkan 13 kejadian bencana di wilayah ASEAN, dengan Indonesia menyumbang sebagian besar: banjir, longsor, dan angin kencang di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Beberapa highlight:
- Banjir di Tangerang dan Jakarta (9 Maret 2026): Hujan deras menyebabkan banjir menggenangi 105 kawasan permukiman dan 19 jalan di Jakarta serta sekitarnya. Banjir juga melanda Tangerang Selatan, memaksa 1.118 rumah tangga mengungsi.
- Longsor Sampah di Bantar Gebang, Bekasi (8 Maret 2026): Longsor limbah di TPA Bantar Gebang menewaskan 7 orang dan melukai 6 lainnya. Kejadian ini dipicu hujan lebat yang memperburuk kestabilan tumpukan sampah.
- Banjir dan Longsor di Jawa Barat (sekitar 13 Maret 2026): Hujan intens menyebabkan banjir dan longsor di Provinsi Jawa Barat, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah serta infrastruktur.
- Aktivitas Vulkanik Gunung Semeru (berulang sepanjang Maret): Gunung Semeru di Jawa Timur erupsi berulang, termasuk pada 13 dan 16 Maret 2026. Erupsi besar menghasilkan abu vulkanik tinggi, aliran lava, dan potensi banjir lahar dingin. Pada 16 Maret malam, erupsi terjadi pukul 23.42 WIB dengan 20 kali gempa letusan tercatat dalam sehari.
- Erupsi Gunung Ibu (Maluku Utara): Erupsi berulang, termasuk pada 17 Maret malam pukul 23.56 WIT, dengan kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak.
Wilayah lain seperti Pasuruan (Jawa Timur), Bogor, dan Lampung juga terdampak banjir serta angin kencang sejak awal Maret, dengan ratusan rumah rusak dan warga terpaksa mengungsi.
Penyebab dan Dampak BMKG menyatakan cuaca ekstrem ini dipengaruhi monsun Asia, bibit siklon tropis, dan puncak musim hujan yang berkepanjangan hingga Maret–April. Longsor dan banjir bandang semakin sering terjadi di daerah pegunungan dan lereng rawan, sementara erupsi vulkanik menambah risiko lahar dingin pasca-hujan lebat.
Korban terbanyak berasal dari banjir dan longsor, dengan kerugian material mencakup rumah, jalan, jembatan, dan lahan pertanian. Di Sulawesi Utara, banjir bandang dan longsor menewaskan 14 orang pada Maret awal, sementara di Jawa Tengah dan Timur, banjir rob serta cuaca buruk mengganggu aktivitas masyarakat.
Respons Pemerintah dan Masyarakat BNPB dan BPBD setempat terus melakukan evakuasi, distribusi logistik, dan rehabilitasi. Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya mitigasi dini melalui peringatan BMKG dan pembangunan infrastruktur tahan bencana. Relawan dan Kementerian Sosial menyalurkan bantuan sembako, obat-obatan, serta santunan bagi korban.
Pakar memperingatkan bahwa perubahan iklim memperburuk frekuensi dan intensitas bencana ini. Masyarakat diimbau tetap waspada, terutama di daerah rawan banjir, longsor, dan sekitar gunung api aktif.
Hingga kini, penanganan masih berlangsung intensif. BNPB mencatat total 537 kejadian bencana dari Januari hingga 10 Maret 2026, menunjukkan tahun ini menjadi salah satu periode paling berat bagi penanggulangan bencana di Indonesia. Warga diharapkan mengikuti peringatan resmi dan siap menghadapi potensi hujan lebat hingga akhir musim hujan.