
Apa itu Rojali dan Rohana?
-
Rojali berasal dari singkatan Rombongan Jarang Beli, sementara Rohana adalah Rombongan Hanya Nanya. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pengunjung yang ramai di mal atau pusat perbelanjaan namun jarang atau bahkan tidak melakukan pembelian sama sekali.
1. Perubahan Perilaku Konsumen Pasca-Pandemi
-
Pengamat tvtogel seperti Ronny P. Sasmita (Indonesia Strategic and Economic Action Institution) menilai ini bukan indikasi konsumsi melemah, melainkan gambaran perilaku konsumen yang lebih selektif dan berhati-hati setelah pandemi. Kini, konsumen senang membandingkan harga atau mengecek produk terlebih dahulu.
-
Sektor informal bahkan menunjukkan tren penjualan yang membaik, dan data Bank Indonesia menyatakan penjualan ritel tetap stabil meski pengunjung meningkat.
2. Lipstick Index dan Strategi Konsumen
-
Analis dari Apindo, Ajib Hamdani, memperkenalkan konsep Lipstick Index, yaitu konsumen tetap membelanjakan uangnya pada produk hiburan atau tersier (misalnya tiket konser atau nonton bola) meski daya beli menurun.
3. Sebentuk Tanda Ketahanan Ekonomi Jakarta
-
Deputi BI DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menyatakan bahwa meski fenomena ini ramai diperbincangkan, daya beli di Jakarta masih relatif kuat dan resiliensi konsumsi rumah tangga tetap tinggi, dengan pertumbuhan konsumsi sekitar 5,13% (YoY) pada Triwulan II 2025.
4. Fenomena Cermin Daya Beli yang Tertahan
-
Rr. Vincie Apriany (BPS Kabupaten Bandung) melihat bahwa fenomena Rojali–Rohana bukan hanya tren sosial, tapi mencerminkan tekanan ekonomi nyata: turunnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga (Q1 2025 ~4,89%), deflasi 0,37% pada Mei, dan memperlambat kontribusi terhadap PDB.
-
Kompasiana juga menyoroti bahwa fenomena ini menjadi indikator daya beli menurun, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi semester I 2025 hanya sekitar 4,6–4,8%, lebih rendah dari sebelumnya.
5. Transformasi Peran Pusat Perbelanjaan
-
Tidak hanya soal transaksi, mall kini menjadi ruang sosial—tempat nongkrong, eksis di media sosial, atau sekadar mendapatkan pengalaman. Hal ini terlihat dari munculnya istilah ‘Rojali’ dan ‘Rohana’ sebagai bagian dari strategi bertahan hidup konsumen.
-
Adaptasi dibutuhkan: mall harus berkembang menjadi destinasi pengalaman dengan event komunitas, integrasi omnichannel, dan promosi kreatif agar menarik pengunjung sekaligus mendorong transaksi.
Kesimpulan
Fenomena Rojali dan Rohana bukan sekadar lelucon—melainkan cerminan ganda:
-
Sebagai perilaku konsumen baru: selektif, berhati-hati, dan mengutamakan pengalaman (lihat-lihat dulu, beli belakangan; showrooming).
-
Namun juga sinyal adanya tekanan ekonomi, terutama pada konsumen kelas menengah–bawah, yang mendorong penyesuaian pola konsumsi—dengan tetap datang ke mal tapi menahan pembelanjaan.
Dengan demikian, Rojali dan Rohana merupakan refleksi adaptasi masyarakat di tengah situasi ekonomi yang berubah, bukan hanya sekadar tren baru tanpa makna.
Baca Juga: Bintang Palace Ini Dianggap Cocok Sebagai ‘Gong’ Aktivitas Transfer Arsenal Pada Musim Panas 2025