Istanbul – Seorang ahli PBB pada Jumat menyatakan bahwa operasi militer Israel di Lebanon telah merusak upaya gencatan senjata dan dapat digolongkan sebagai kejahatan perang.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangan mematikan Israel menghantam kamp pengungsi Palestina Ain al-Hilweh di Sidon, serta berbagai serangan lain yang terjadi di berbagai wilayah Lebanon.
“Ini bukan kejadian terpisah, melainkan bagian dari rangkaian serangan mematikan di daerah berpenduduk yang menunjukkan pengabaian total terhadap gencatan senjata,” ujar pelapor khusus PBB, Morris Tidball-Binz.
Ia juga menyoroti serangan Israel terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL, menekankan bahwa serangan yang disengaja terhadap personel PBB tergolong kejahatan perang.
Menurutnya, tindakan tersebut bertentangan dengan Piagam PBB, Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, serta melanggar kedaulatan Lebanon.
Tidball-Binz menyerukan agar Israel menghentikan serangan dan meminta pertanggungjawaban bagi pihak-pihak yang merencanakan, memerintahkan, atau menyetujui tindakan yang melanggar hukum tersebut. Ia juga mendorong komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan.
Situasi di Lebanon terus memanas setelah Israel melakukan serangan udara hampir setiap hari dengan alasan menargetkan kelompok Hizbullah.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai hampir 17.000 lainnya.
Sesuai kesepakatan gencatan senjata November 2024, Israel seharusnya menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan pada Januari. Namun hingga kini, Israel baru menarik sebagian pasukan dan masih mempertahankan lima pos di perbatasan.
Editor : initogel
Sumber : hdselcuksports.net